“PELANGI SEHABIS KELAM”
Mentari pagi itu sungguh menyilaukan pandanganku,
burung-burung menari dirindangnya kamboja berdaun rimbun. Ku hirup dalam-dalam
oksigen segar yang dikeluarkan pohon berdaun rimbun ditempat ku beristirahat
ditengah teriknya sengatan sang raja siang. “oooiii…” “astagaaaa… hampir copot
nih jantung aku. Untung aja aku gak punya penyakit jantung,kalau punya,aku
gantayangin kalian berdua.” kataku seraya mengelus-elus dadaku. “masa’ gitu aja
jantungan sih ! lebay ah… hihihi..” kata katri seraya nyengir kuda. “iya !
lagian siang-siang begini,malah asyik bengong ! entar kesambet baru tahu rasa
!” kata dita seraya mengambil posisi duduk disampingku. Seketika seekor
kupu-kupu kecil bersayap putih dengan goresan warna hitam ditepinya menghampiri
bunga asoka yang berada tak jauh dari pandanganku. “ada kupu-kupu tuh ! cepet
ngucapin permintaan !” ujarku seraya melirik kedua sobatku. “fira ! fira ! ini
kupu-kupu bukan bintang !” kata katri seraya mengacak-acak rambutku. “tangkap
yok !” ujar dita. “ayo..” kataku sembari bangkit berdiri. “dita ! dari sana ya
!” kata dita seraya berjalan menuju sisi kanan kupu-kupu. “haaaap…” kataku
seraya melompat kecil menuju sekumpulan bunga asoka yang disambangi kupu-kupu
kecil tersebut. “bruuuk… aaauuu…” “hahaha…” gelak tawa langsung terhambur dari
semua orang yang berada disekitar kumpulan bunga asoka tersebur. “katanya anak
SMP tapi kelakuan kayak anak TK !” celutuk seorang anak laki-laki berbadan jangkung
dengan tatapan sinis melihat aksi aku dan dita. “grrr…” suaraku menggeram
mendengar perkataan sosok jangkung tersebut. “heh ! emangnya kenapa ? masalah
buat lo ?” tanyaku seraya mencoba bangkit dari tempat tersebut. “udah,fir !
sabar-sabar !” kata katri dan dita membisikiku. “gak bisa kayak gitu,dong !
ngapain dia ikut campur urusan aku ? siapa dia ? kenal aja tidak !” kataku
seraya menekan nada pada kata tidak tersebut. Pada siang yang terik kali
ini,aku beserta teman-temanku tengah melakukan kemping layaknya anak pramuka
yang lain.
“fira !fira ! kenapa sih dikit-dikit emosi ? entar keriput
loh !” kata katri menggoda. “iya ! liat tuh udah banyak keriputnya.” kata dita
seraya menunjuk bagian wajahku. “biarin ! siapa suruh mereka cari kelahi sama
aku ? mereka kira aku takut ?” tanyaku dengan nada emosi. “Kita ini makhluk
sosial. Saling membutuhkan. Mana tahu suatu saat kamu butuh bantuan anak
jangkung itu,eh.. dia gak mau bantu kamu. Gimana ? kan ribet jadinya !” kata
dita menasehati. “apa hubungannya ?” tanyaku acuh. “maksud dita itu,kalau
misalnya kita butuh bantuan dia,tapi dia gak mau bantuin,gimana ? siapa tahu
dia masih sakit hati sama sikap kamu yang kasar itu.” terang katri. “butuh
bantuan dia ? tak payah,dibantuin sama orang kayak gitu !” kataku dengan nada
geli.
Siang yang terik berangsur-angsur berganti menjadi malam
yang gelap dan sunyi,kali ini seluruh siswa pramuka berkumpul mengelilingi tiga
buah api unggun yang dibuat oleh kelompok macan tutul. “dingin banget ya !”
kata beberapa anak cewek sahut menyahut. “ngantuk nih !” kata hime seraya
bersandar dibahuku. “apaan sih,me !” geli tahu !’ protesku melihat aksinya
tersebut. “baik anak-anak ! malam ini kita akan mengadakan permainan yang cukup
menguji nyali kita..” kata bu lila yang langsung membuat sebagian anak cewek
mengeluh. “aduuuh… malas banget kalau udah kayak gini !” kata nadia dengan
suara lantangnya. “kalau kamu gak mau ikut,silahkan pulang !” kata bu lila
dengan nada suara yang tegas. “eeehhhh… berisik aja !” kata anak laki-laki yang
mendengar perkataan nadia tersebut. “permainan ini secara berkelompok,anggota
kelompoknya bukan ibu yang nentukan tapi tangan kalian. Kalian harus mengambil
kertas yang terdapat didalam baskom ini,kartunya dibuka bersama-sama !” kata bu
lila seraya mengeluarkan sebuah baskom kecil dan menggitari kami. “semoga kita
sekelompok ya !” kata dita. “iya ! semoga kita bertiga satu kelompok !” kataku
mengulang kata-kata dita. “aku gak diajak ?” tanya hime dengan muka memelas.
Aku,dita,dan katri hanya dapat melemparkan senyuman kepadanya. Hime adalah
gadis berbadan jangkung dengan kulit putih bersih. Dia juga seorang gadis
berketurunan jepang.
“sekarang angkat
kartu kalian !” kata pak rendra memberi perintah. “yang pegang kartu putih
silahkan berdiri disebelah kiri bapak,yang pegang kartu kuning disebelah
kanan,yang pegang kartu biru didepan bapak dan yang pegang kartu merah didekat
bu lila !” kata pak rendra member aba-aba. Dengan berat hati aku melangkahkan
kaki kearah bu lila. Ya ! aku,salah satu pemegang kartu berwarna merah membara
tersebut. “permainannya gampang ! masing-masing dari kalian harus mencari
bendera-bendera yang tersebar didalam hutan,dan ingat kekompakan adalah kunci
dari permainan ini !” kata pak anton.
“huh ! sial ! kenapa aku harus sekelompok sama orang-orang
ini ! ada si jangkung itu pulak tuh ! iss… lengkap sudah penderitaanku !”
kataku mendongkol. “heh ! jangan ge-er dulu kamu ! siapa juga yang mau
sekelompok sama kamu !” kata pria jangkung tersebut seolah membaca pikiranku.
“sssstt.. jangan kelahi !” kata rio si ketua kelompok merah. “fira ! ambil tuh
benderanya !” perintah rio sembari menunjuk ke arah sebuah bendera yang
tergantung dipohon. “iiih… kenapa harus aku ?” tanyaku kesal. “kamu yang paling
dekat !” kata rio menjawab singkat. “ambil ajalah ! banyak protes !” kata cowok
berbadan jangkung yang sempat membuatku emosi di siang tadi. “danny ! cepat
temanin si fira !” perintah rio. “aku ? kenapa harus aku !” protesnya.
“cepatlah ! habis waktu !” kata rio dengan nada emosi. Akhirnya aku melangkah
ke tempat bendera berada dengan ditemani danny si badan jangkung tersebut.
“bruuuuk…” “firaaaa ! danny !”
“aaaduuh…” kataku mengaduh. Kutatap keadaan sekitar. “oh my
god,ada apa lagi ini ?” tanyaku seraya memijat-mijat kakiku yang sepertinya
keseleo. “danny ! fira ! kalian tidak apa-apa ?” tanya anggota yang lain dari
atas. “gak papa ! cepat cari bantuan,kami gak bisa naik nih !” kata danny. Kami
tengah berada didalam sebuah lubang yang dalamnya kurang lebih 2
meter,sepertinya lubang ini sengaja dibuat oleh pembuatnya. “bertahan ya ! kami
mau cari bantuan dulu !” kata rio lalu beranjak pergi menjauh dari lubang
tersebut. “fira ! ada yang sakit gak ?” tanya danny memulai perbincangan. “gak
! tapi kaki aku kayaknya keseleo,deh.” kataku seraya terus memijat kakiku yang
keseleo karna terperosok ke dalam lubang. “sini,aku pijatin !” kata danny
seraya menarik kakiku dengan kasar. “woooii,niat bantuin gak sih ?” tanyanya.
“iya-iya ! yang mana yang sakit ?” tanyanya seraya mengeluarkan sebotol minyak
dari saku celananya. “jangan kuat-kuat !” kataku. “iyalah ! banyak protes aja
!” kata danny.
Berselang 30 menit kemudian,rio dan kawan-kawan tak kunjung
datang untuk memberikan bantuan. Akhirnya aku dan danny yang mulai
akrab,memutuskan untuk keluar dari lubang tersebut. “angkat yang tinggi,dong !
gak nyampe nih !” protesku. “kamunya berat !” kata danny. “cepatlah !” kataku.
Akhirnya perjuanganku membuahkan hasil aku sampai diatas. “bantuin aku,dong !”
katanya. Akupun langsung memberikan tanganku. “aduuuh,berat banget sih !”
kataku seraya menarik tangannya. “ahhh… akhirnya diatas juga !” kata danny
seraya membersihkan celana panjangnya yang kotor. “sekarang kita lewat mana,nih
?” tanyaku. “kita ikutin aja jejak kaki mereka.” kata danny seraya melihat
rumput-rumput bekas pijakan kelompok kami.
“kita ikut jalan yang mana nih ?” tanyaku ketika melihat dua
buah jalan yang membelah hutan tersebut dan kedua jalan tersebut terdaoat jejak
kakinya. “kita pecah aja !” usul danny. “pecah ? enggak-enggak !” tolakku
spontan. “mau cepat nyampai gak,sih ?” tanya danny dengan nada kesal. “iihh..”
“aku kanan,kamu kiri !” katanya. “enggak ! aku kanan,kamu yang kiri !”
perintahku. “huft.. iyalah !” kata danny menghirup nafas panjang. “lima belas
menit lagi kita kumpul disini lagi !” kata danny.
“ya ampun ! kok aku mau aja,sih ! hiiih ! kenapa harus kayak
gini coba ?” kataku bersungut-sungut seraya mengarahkan senterku kesetiap sisi
hutan yang terlihat mencurigakan. “criiik..criiik..kretek !” “ih ! apa itu ?”
kataku dengan nafas tersenggal-senggal dan kurasa mukaku juga telah memucat.
“Ya Tuhan tolong aku !” kataku dalam hati. “kretek !” suara dahan dipijak itu
kembali muncul dan membuat buluku berdiri. “Tuhan tolong aku !” teriakku dalam
hati. “kress..kreess…” suara itu dengan perlahan tapi pasti semakin mendekat.
“lari gak ya ?” pikirku. “enggak ! paling itu hanya rum..” “kreess..kreess…”
suara itu kembali berbunyi dan kali ini dari belakangku. Badanku
panas,jantungku berderap kencang,rasanya ingin pingsan.
“kress..kreess..kresss..” “laaaariiii !!” teriakku dengan nada yang sangat
kuat. Aku berlari dengan sekuat tenaga menuju persimpangan tempat dimana kami
berpisah. “duuukk… aauuu..” rintihku. Baru saja kepalaku membentur sebuah pohon
besar berlumut yang tak kusadari keberadaannya. “aaahh.. apa ini ?” tanyaku
kaget menyaksikan tanganku berlumuran darah setelah memegang keningku yang
terbentur tadi. Badanku sempoyongan,lututku lemas,tanganku mulai mengeluarkan
keringat. Aku adalah seorang haemophobia. “fira ! bangun fira ! kamu gak boleh
terpuruk dalam ketakutanmu ! semangat !” kataku dalam hati. Aku mencoba
melangkahkan kaki dengan darah yang sedikit demi sedikit mengucur dari
keningku.
“kreesss..kreesss…” Akhirnya suara aneh itu muncul kembali
setelah beberapa saat tidak berbunyi. “dalam hitungan ketiga kamu harus lari !”
batinku. “satu ! dua ! tiii…” “firaaaa….” panggil seseorang dari sosok
kegelapan. “fira ! fira ! hosh..hosh..hosh…” panggil suara itu lagi dengan nada
terengah-engah. “jangan-jangan itu han…” kataku seraya mengambil ancang-ancang
untuk lari dari tempat itu. “firaaaa….” Panggil suara itu lagi dengan seberkas
cahaya menyinarinya. “ini aku ! danny !” katanya seraya berlari mendekatiku.
“ya ampun,dan ! jantung aku mau copot nih !” kataku seraya mengelus-elus
dadaku. “sssttt…sssstt….” “dengar sesuatu gak ?” tanyaku. “dengar apa ?” tanya
danny. “udahlah,lupakan !” kataku. Kamipun memutuskan untuk kembali menyusuri
jalan-jalan kecil yang membelah hutan tersebut. Kami memutuskan untuk menyusuri
jalan yang sebelumnya ku jalani,karna kata danny jalan yang dia susuri cukup
curam.
“ssssttt… sssstt…” “fir ! kamu dengar suara gak ?” “suara
apa ?” tanyaku. “gak usah bikin takut,deh !” sambungku. “enggak tapi ada suara…
ahh.. lupakan !” katanya. “dan ! dan !” kataku seraya menarik-narik bajunya.
“apa sih ?” tanyanya. “ada… ada… ada ular !” teriakku. “hah ?!” “Tuhan tolong
kami !” kataku seraya menitikkan air mata. “danny ! jangan sok berani,deh !”
kataku seraya menarik bajunya. Danny menepis tanganku. “minjam senternya !”
kata danny. “untuk apa ? disituasi kayak gini mestinya kita berdoa,dan !”
kataku kembali menitikkan air mata. “minjam !” katanya seraya menarik senter
dari genggaman tanganku. “dalam hitungan ketiga kamu harus lari kencang-kencang
!” perintah danny. “tapi,dan ?” protesku. “udah,diam !” katanya seraya merogoh
saku celananya. “satu… duaaa…” hitungnya seraya mengarahkan sinar senter tepat
dimata ular tersebut. “tiii….” Akupun mulai mengambil ancang-ancang untuk
berlari kencang sesuai perkataan danny. “tii…” ulangnya lagi seraya menabur
sesuatu dari sakunya mengelilingi sang ular. “tiiigaaaa…” teriaknya.
“hosh..hosh…” dengan nafas tersenggal-senggal aku tetap
berusaha lari sekencang mungkin sembari melihat ke belakang,menyaksikan keadaan
danny. “dimana,danny ?” tanyaku seraya menghentikan langkahku. “dannyyyyy…”
teriakku memecahkan keheningan hutan tersebut. “danny ! dannyyy…” teriakku
lagi. “danny dimana ?” tanyaku dalam hati. “kalau aku kembali,nanti aku bisa
ketemu ular lagi. Tapi kalau gak kembali nanti… aahh.. ribet banget,sih !”
kataku seraya mengaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “dannyyy…” teriakku
seraya berlari kecil menuju tempat aku dan danny berada sebelumnya. Dengan
perasaan waswas aku berlari tanpa menggenggam sebuah senter atau penerangan
lainnya ditanganku. Bulan tidak tampak malam itu,kabut yang gelap menutupinya.
Bintang juga tidak memancarkan sinarnya secerah biasanya. “dannyyy…” ucapku
setelah menyaksikan danny tersungkur ditanah. “danny….” Ucapku lagi. Pikiranku kacau
aku takut terjadi sesuatu dengan teman baruku itu,apalagi dia sampai tergigit
ular. “oh no ! danny,please !” kataku seraya memukul-mukul pipinya. “sakit,mas
!” “danny ?” ujarku seraya mengernyitkan dahiku. “iihh.. bikin panik aja !”
kataku setelah menyadari danny,sobatku itu hanya berbaring ditanah dan tidak
ada sesuatu yang terjadi dengannya. “capek nih ! udah deh kita istirahat dulu
!” usul danny. “istirahat dihutan begini ?” tanyaku. “ya iyalah !” sahutnya.
“nananana…na..nanana..” mengalun sebuah lagu lembut dari telpon genggamku.
“haloo…” “fira ! fira ! kamu dimana ?” tanya suara diseberang sana. “kami masih
dihutan ! kalian dimana ? halo ? halo…” “kenapa ?” tanya danny. “hape-ku habis
baterai..” kataku pasrah. “kenapa dari tadi kamu gak bilang,kalau kamu bawa
hape ?” tanyanya. “oh iya ya ! aku aja gak ingat !” kataku seraya menepuk
dahiku. “aauuu…” kataku merintih. “kepalamu berdarah !” kata danny. “tadi
kepalaku terantuk pohon !” ujarku seraya menutupi luka yang kembali
mengeluarkan darah. “ni tutupin pakai ini !” katanya seraya menyodorkan
selembar tissue.
“saku kamu ada apa aja,sih ?” tanyaku. “maksudnya ?”
tanyanya. “tadi kamu ngeluarin minyak angin,terus bubuk-bubuk gitu terus
tissue. Sekarang pop mie bisa gak ?” tanyaku. “kamu pikir sakuku saku doraemon
? tadi itu aku ngeluarin garam bukan bubuk !” terangnya. “ooh.. untuk apa garam
? kamu mau masak ularnya ?” tanyaku meledek. “anak pramuka kayak gini !”
katanya seraya menatapku remeh. “kalau aku tahu,gak bakal aku tanya !”
ungkapku. “menurut artikel yang pernah aku baca,garam itu dapat membantu kita
untuk menghindar dari binatang buas khususnya ular,tapi aku juga gak tahu
persis sih. Tadikan aku juga ada pakai senter,sinar senter yang diarahkan tepat
dimatanya dapat membuat ular buta walaupun hanya sesaat !” terangnya. “oh..
lanjut jalan yok ! udah jam 11 malam nih !” kataku seraya melirik jam tangan
berwarna kuning milikku. “oke ! tarik aku,dong !” katanya seraya mengulurkan
tangannya. Akupun menarik tangannya. Aku berjalan agak didepan,kali ini ada
sesuatu yang lain dengan cara berjalan danny. “kenapa kakimu ?” tanyaku.
“terkilir..” jawabnya singkat. “oh ! mau aku bopong ?” tanyaku menawarkan.
“enggak,terimakasih..” tolaknya. Aku berjalan didepan danny yang berjalan
terpincang-pincang.
“istirahat dulu,deh !” usul danny. “oke !” sahutku lalu
duduk didekatnya. “gelap banget yah ! mana senter udah mati lagi !” kataku
mencari bahan pembicaraan. “iya ! eh lihat deh ! ada kunang-kunang..” katanya
seraya menunjuk kearah segerombolan hewan yang memancarkan sinarnya tersebut.
“oh itu kunang-kunang ?” tanyaku seraya berdiri dan mendekati sang
kunang-kunang. “hati-hati !” pesan danny. “aaahh… apa ini !” kataku. Sebuah
tali mengikat kakiku,entah apa sebabnya. “eh ! kamu ini buat masalah aja
kerjanya !” kata danny seraya berdiri dan merogoh saku celanannya. “aaahhh…”
“makanya hati-hati !” ledekku melihat kedua kaki danny juga terikat. “ini pasti
kerjaan pemburu-pemburu itu !” kata danny seraya memotong tali yang mengikat
kakinya tersebut. “kaki aku dong !” pintaku. “sabar ! jangan gerak-geraklah !
kayak mana mau dipotong ? salah potong baru tahu !” kata danny. “cepatlah !”
protesku. “aahh…” rintih danny. “kenapa ?” tanyaku. “cutter-nya patah !” kata
danny seraya menunjukkan potongan cutter yang patah tersebut. “apa sih ! kenapa
patahnya waktu giliran aku,sih ?” protesku seraya mendecak. “manalah aku tahu
!” kata danny acuh. “tunggu disini ya ! aku mau cari benda tajam dulu !”
katanya seraya beranjak pergi dari hadapanku. “jangan lama-lama !” kataku.
Jam tanganku telah menunjukkan pukul 00.30 kurang lebih
sudah 15 menit danny pergi dan belum kembali. Hal ini sontak saja membuatku
panik,bagaimana tidak ? aku takut kejadian seperti rio dan kawan-kawan pergi
dan tidak kembali itu kembali terjadi padaku. “positif thinking,fira !” ujarku.
“kretek.. kretek…” suara dahan diinjak itu kembali muncul. Entah itu hanya
perasaanku atau.. “kretek…” “Tuhan,lindungi hambamu ini !” pintaku. Seberkas
cahaya muncul dari balik gelapnya pohon-pohonnan yang menutupi hutan tersebut.
“fiiiraaaa disiniii…” teriakku. Segerombolan orang tersebut berjalan kearahku.
“sedang apa kamu dihutan ?” tanya salah satu anggota gerombolan itu. “saya
tersesat,pak !” jawabku. Kemudian orang-orang yang terdiri dari bapak-bapak
tersebut membuka ikatan tali yang membelit kakiku dan membawaku pergi dari
hutan tersebut,namun anehnya tak satupun dari mereka,aku kenali.
“dimana ini ?” tanyaku melihat orang-orang tadi membawaku
kesebuah rumah tua ditengah hutan. “tenang ! teman-teman kamu juga ada
didalam..” kata bapak berjaket merah. Akupun memasuki ruangan yang ditunjuk
oleh bapak tadi. “duuup…” “eh apa-apaan ini ?” tanyaku menyaksikan pintu
ruangan tempatku berada dikunci. “udah,diam kamu !” kata bapak tersebut. Aku
menatapi sekeliling ruangan,ruangan yang kotor tapi terang. Tinggallah aku
sendiri diruangan tersebut. “Tuhan,ada apa lagi ini ?” tanyaku dengan linangan
air mata. Ku lirik jam tanganku,kini menunjukkan pukul 04.30 pagi. Mataku mulai
terpejam.
“firaa.. firaaa…” Suara tersebut membangunkanku dari mimpi indahku.
“danny ?” tanyaku. Suara itu mengingatkanku akan sosok sobat lelakiku.
“fira-fira !” suara itu kembali diperdengarkan dan kali ini aku tahu suara itu
berasal dari jendela yang terbuka disisi kanan ruangan tersebut. “danny ?
tolong aku,dan ! aku diculik !” ungkapku. “iya,masalah itu aku juga tahu..”
ungkap danny seraya melirik ke kanan dan ke kiri. “rombongan yang lain udah
nyusul mau ke sini ! kamu tenang aja,didalam !” pesan danny. “oke…” “nih ada
makanan ! lumayan buat ganjal perut ..” katanya sembari memberiku sebungkus
roti kelapa. “thank you !” ujarku. “aku pergi dulu ya ! takut ketahuan !”
katanya. Akupun menjauh dari jendela yang diteralis tersebut. Ku mulai melahap
roti isi kelapa yang diberikan oleh danny tersebut.
“bruukk…” sebuah tendangan berhasil membuka pintu ruangan
dimana aku berada tersebut. “sini,cepat ikut kami !” perintah bapak-bapak yang
semalam sempat menyelamatkanku. “enggak !” kataku seraya menepis tanganku.
“dasar anak nakal !” kata bapak tersebut seraya menampar pipi kiriku. Aku tak
dapat mengucapkan sepatah kata pun. “cepat sini !” Aku yang masih syok mendapat
tamparan kasar dari sang bapak tersebut,akhirnya hanya bisa mengikuti
perintahnya. Akupun berjalan didepan bapak tersebut dengan sebilah pisau
dibagian punggungku. “firaaa… !!” teriak teman-temanku yang berteriak histeris
melihat diriku dengan bilahan pisau dibagian punggung. “firaaa…” jerit katri
dengan histeris disusul dita,hime,nadia dan anak-anak yang lain. “serahkan
uangnya !” kata bapak yang berjaket biru dongker. “ha ?! uang ?” tanyaku. “diam
kamu !” kata seorang bapak dibelakangku seraya memindahkan pisau yang tadinya
dibelakangku kearah leher. “firaaa…” teriak hime seraya maju selangkah dari
tempat sebelumnya. “heh ! lancang kamu ya !” kata bapak yang lain. “lepaskan
fira,pak !” pinta dita seraya memegang tangan seorang laki-laki yang berada
didekatnya. “plaaaak…” sebuah tamparan mendarat dipipi dita. “heh ! bapak tahu
etika,tidak ? ini anak kecil !” kata bu lila yang sedari tadi hanya diam. “saya
mau uangnya ! mana ?” tanya lelaki yang menampar dita tadi. “ini,pak !” “ayaaah
?” kataku heran melihat sosok lelaki yang sangat kukenal. “Ini uangnya…
jumlahnya 150 juta ! dua kali lipat dari yang kalian minta !” ujar papa seraya
memberikan tas ransel berwarna hitam. “sini !” rampas pria tersebut.
“lepaskan,dia !”
“angkat tangan !” Beberapa kawanan polisi memasuki ruangan
yang penuh dengan ketegangan tersebut. Dengan cepat aku mengambil kesempatan
untuk pergi dari cengkraman para penculik tersebut. “firaaa…” sambut teman-temanku
seraya memberikan pelukan hangat. “thank’s semua ! karna kalian aku bisa
selamat ! thank you !” ucapku dengan tangisan. “ingat gak kata-kata aku ?”
tanya dita. “kata-kata apa ?” tanyaku. “suatu saat kamu pasti membutuhkan
pertolongan dia.. si jangkung itu loh !” kata katri seraya menunjuk ke arah si
jangkung nan baik hati,danny. “iya-iya ! aku akui kalau sebelumnya aku salah
berpendapat tentang dia. Yak an,danny ?” ucapku seraya menekan nada pada kata
danny. Danny melempar senyum mautnya. “cieee…” sorak anak lain. “masih kecil
gak ada cinta-cintaan. Aku sama danny itu hanya temanan,friend !”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama :
E-Mail :
Komentar :