expr:class='"loading" + data:blog.mobileClass'>

me :)

me :)

Selasa, 07 Agustus 2012

Cerpen :)


“PELANGI SEHABIS KELAM”
Mentari pagi itu sungguh menyilaukan pandanganku, burung-burung menari dirindangnya kamboja berdaun rimbun. Ku hirup dalam-dalam oksigen segar yang dikeluarkan pohon berdaun rimbun ditempat ku beristirahat ditengah teriknya sengatan sang raja siang. “oooiii…” “astagaaaa… hampir copot nih jantung aku. Untung aja aku gak punya penyakit jantung,kalau punya,aku gantayangin kalian berdua.” kataku seraya mengelus-elus dadaku. “masa’ gitu aja jantungan sih ! lebay ah… hihihi..” kata katri seraya nyengir kuda. “iya ! lagian siang-siang begini,malah asyik bengong ! entar kesambet baru tahu rasa !” kata dita seraya mengambil posisi duduk disampingku. Seketika seekor kupu-kupu kecil bersayap putih dengan goresan warna hitam ditepinya menghampiri bunga asoka yang berada tak jauh dari pandanganku. “ada kupu-kupu tuh ! cepet ngucapin permintaan !” ujarku seraya melirik kedua sobatku. “fira ! fira ! ini kupu-kupu bukan bintang !” kata katri seraya mengacak-acak rambutku. “tangkap yok !” ujar dita. “ayo..” kataku sembari bangkit berdiri. “dita ! dari sana ya !” kata dita seraya berjalan menuju sisi kanan kupu-kupu. “haaaap…” kataku seraya melompat kecil menuju sekumpulan bunga asoka yang disambangi kupu-kupu kecil tersebut. “bruuuk… aaauuu…” “hahaha…” gelak tawa langsung terhambur dari semua orang yang berada disekitar kumpulan bunga asoka tersebur. “katanya anak SMP tapi kelakuan kayak anak TK !” celutuk seorang anak laki-laki berbadan jangkung dengan tatapan sinis melihat aksi aku dan dita. “grrr…” suaraku menggeram mendengar perkataan sosok jangkung tersebut. “heh ! emangnya kenapa ? masalah buat lo ?” tanyaku seraya mencoba bangkit dari tempat tersebut. “udah,fir ! sabar-sabar !” kata katri dan dita membisikiku. “gak bisa kayak gitu,dong ! ngapain dia ikut campur urusan aku ? siapa dia ? kenal aja tidak !” kataku seraya menekan nada pada kata tidak tersebut. Pada siang yang terik kali ini,aku beserta teman-temanku tengah melakukan kemping layaknya anak pramuka yang lain.
“fira !fira ! kenapa sih dikit-dikit emosi ? entar keriput loh !” kata katri menggoda. “iya ! liat tuh udah banyak keriputnya.” kata dita seraya menunjuk bagian wajahku. “biarin ! siapa suruh mereka cari kelahi sama aku ? mereka kira aku takut ?” tanyaku dengan nada emosi. “Kita ini makhluk sosial. Saling membutuhkan. Mana tahu suatu saat kamu butuh bantuan anak jangkung itu,eh.. dia gak mau bantu kamu. Gimana ? kan ribet jadinya !” kata dita menasehati. “apa hubungannya ?” tanyaku acuh. “maksud dita itu,kalau misalnya kita butuh bantuan dia,tapi dia gak mau bantuin,gimana ? siapa tahu dia masih sakit hati sama sikap kamu yang kasar itu.” terang katri. “butuh bantuan dia ? tak payah,dibantuin sama orang kayak gitu !” kataku dengan nada geli.
Siang yang terik berangsur-angsur berganti menjadi malam yang gelap dan sunyi,kali ini seluruh siswa pramuka berkumpul mengelilingi tiga buah api unggun yang dibuat oleh kelompok macan tutul. “dingin banget ya !” kata beberapa anak cewek sahut menyahut. “ngantuk nih !” kata hime seraya bersandar dibahuku. “apaan sih,me !” geli tahu !’ protesku melihat aksinya tersebut. “baik anak-anak ! malam ini kita akan mengadakan permainan yang cukup menguji nyali kita..” kata bu lila yang langsung membuat sebagian anak cewek mengeluh. “aduuuh… malas banget kalau udah kayak gini !” kata nadia dengan suara lantangnya. “kalau kamu gak mau ikut,silahkan pulang !” kata bu lila dengan nada suara yang tegas. “eeehhhh… berisik aja !” kata anak laki-laki yang mendengar perkataan nadia tersebut. “permainan ini secara berkelompok,anggota kelompoknya bukan ibu yang nentukan tapi tangan kalian. Kalian harus mengambil kertas yang terdapat didalam baskom ini,kartunya dibuka bersama-sama !” kata bu lila seraya mengeluarkan sebuah baskom kecil dan menggitari kami. “semoga kita sekelompok ya !” kata dita. “iya ! semoga kita bertiga satu kelompok !” kataku mengulang kata-kata dita. “aku gak diajak ?” tanya hime dengan muka memelas. Aku,dita,dan katri hanya dapat melemparkan senyuman kepadanya. Hime adalah gadis berbadan jangkung dengan kulit putih bersih. Dia juga seorang gadis berketurunan jepang.
 “sekarang angkat kartu kalian !” kata pak rendra memberi perintah. “yang pegang kartu putih silahkan berdiri disebelah kiri bapak,yang pegang kartu kuning disebelah kanan,yang pegang kartu biru didepan bapak dan yang pegang kartu merah didekat bu lila !” kata pak rendra member aba-aba. Dengan berat hati aku melangkahkan kaki kearah bu lila. Ya ! aku,salah satu pemegang kartu berwarna merah membara tersebut. “permainannya gampang ! masing-masing dari kalian harus mencari bendera-bendera yang tersebar didalam hutan,dan ingat kekompakan adalah kunci dari permainan ini !” kata pak anton.
“huh ! sial ! kenapa aku harus sekelompok sama orang-orang ini ! ada si jangkung itu pulak tuh ! iss… lengkap sudah penderitaanku !” kataku mendongkol. “heh ! jangan ge-er dulu kamu ! siapa juga yang mau sekelompok sama kamu !” kata pria jangkung tersebut seolah membaca pikiranku. “sssstt.. jangan kelahi !” kata rio si ketua kelompok merah. “fira ! ambil tuh benderanya !” perintah rio sembari menunjuk ke arah sebuah bendera yang tergantung dipohon. “iiih… kenapa harus aku ?” tanyaku kesal. “kamu yang paling dekat !” kata rio menjawab singkat. “ambil ajalah ! banyak protes !” kata cowok berbadan jangkung yang sempat membuatku emosi di siang tadi. “danny ! cepat temanin si fira !” perintah rio. “aku ? kenapa harus aku !” protesnya. “cepatlah ! habis waktu !” kata rio dengan nada emosi. Akhirnya aku melangkah ke tempat bendera berada dengan ditemani danny si badan jangkung tersebut. “bruuuuk…” “firaaaa ! danny !”
“aaaduuh…” kataku mengaduh. Kutatap keadaan sekitar. “oh my god,ada apa lagi ini ?” tanyaku seraya memijat-mijat kakiku yang sepertinya keseleo. “danny ! fira ! kalian tidak apa-apa ?” tanya anggota yang lain dari atas. “gak papa ! cepat cari bantuan,kami gak bisa naik nih !” kata danny. Kami tengah berada didalam sebuah lubang yang dalamnya kurang lebih 2 meter,sepertinya lubang ini sengaja dibuat oleh pembuatnya. “bertahan ya ! kami mau cari bantuan dulu !” kata rio lalu beranjak pergi menjauh dari lubang tersebut. “fira ! ada yang sakit gak ?” tanya danny memulai perbincangan. “gak ! tapi kaki aku kayaknya keseleo,deh.” kataku seraya terus memijat kakiku yang keseleo karna terperosok ke dalam lubang. “sini,aku pijatin !” kata danny seraya menarik kakiku dengan kasar. “woooii,niat bantuin gak sih ?” tanyanya. “iya-iya ! yang mana yang sakit ?” tanyanya seraya mengeluarkan sebotol minyak dari saku celananya. “jangan kuat-kuat !” kataku. “iyalah ! banyak protes aja !” kata danny.
Berselang 30 menit kemudian,rio dan kawan-kawan tak kunjung datang untuk memberikan bantuan. Akhirnya aku dan danny yang mulai akrab,memutuskan untuk keluar dari lubang tersebut. “angkat yang tinggi,dong ! gak nyampe nih !” protesku. “kamunya berat !” kata danny. “cepatlah !” kataku. Akhirnya perjuanganku membuahkan hasil aku sampai diatas. “bantuin aku,dong !” katanya. Akupun langsung memberikan tanganku. “aduuuh,berat banget sih !” kataku seraya menarik tangannya. “ahhh… akhirnya diatas juga !” kata danny seraya membersihkan celana panjangnya yang kotor. “sekarang kita lewat mana,nih ?” tanyaku. “kita ikutin aja jejak kaki mereka.” kata danny seraya melihat rumput-rumput bekas pijakan kelompok kami.
“kita ikut jalan yang mana nih ?” tanyaku ketika melihat dua buah jalan yang membelah hutan tersebut dan kedua jalan tersebut terdaoat jejak kakinya. “kita pecah aja !” usul danny. “pecah ? enggak-enggak !” tolakku spontan. “mau cepat nyampai gak,sih ?” tanya danny dengan nada kesal. “iihh..” “aku kanan,kamu kiri !” katanya. “enggak ! aku kanan,kamu yang kiri !” perintahku. “huft.. iyalah !” kata danny menghirup nafas panjang. “lima belas menit lagi kita kumpul disini lagi !” kata danny.
“ya ampun ! kok aku mau aja,sih ! hiiih ! kenapa harus kayak gini coba ?” kataku bersungut-sungut seraya mengarahkan senterku kesetiap sisi hutan yang terlihat mencurigakan. “criiik..criiik..kretek !” “ih ! apa itu ?” kataku dengan nafas tersenggal-senggal dan kurasa mukaku juga telah memucat. “Ya Tuhan tolong aku !” kataku dalam hati. “kretek !” suara dahan dipijak itu kembali muncul dan membuat buluku berdiri. “Tuhan tolong aku !” teriakku dalam hati. “kress..kreess…” suara itu dengan perlahan tapi pasti semakin mendekat. “lari gak ya ?” pikirku. “enggak ! paling itu hanya rum..” “kreess..kreess…” suara itu kembali berbunyi dan kali ini dari belakangku. Badanku panas,jantungku berderap kencang,rasanya ingin pingsan. “kress..kreess..kresss..” “laaaariiii !!” teriakku dengan nada yang sangat kuat. Aku berlari dengan sekuat tenaga menuju persimpangan tempat dimana kami berpisah. “duuukk… aauuu..” rintihku. Baru saja kepalaku membentur sebuah pohon besar berlumut yang tak kusadari keberadaannya. “aaahh.. apa ini ?” tanyaku kaget menyaksikan tanganku berlumuran darah setelah memegang keningku yang terbentur tadi. Badanku sempoyongan,lututku lemas,tanganku mulai mengeluarkan keringat. Aku adalah seorang haemophobia. “fira ! bangun fira ! kamu gak boleh terpuruk dalam ketakutanmu ! semangat !” kataku dalam hati. Aku mencoba melangkahkan kaki dengan darah yang sedikit demi sedikit mengucur dari keningku.
“kreesss..kreesss…” Akhirnya suara aneh itu muncul kembali setelah beberapa saat tidak berbunyi. “dalam hitungan ketiga kamu harus lari !” batinku. “satu ! dua ! tiii…” “firaaaa….” panggil seseorang dari sosok kegelapan. “fira ! fira ! hosh..hosh..hosh…” panggil suara itu lagi dengan nada terengah-engah. “jangan-jangan itu han…” kataku seraya mengambil ancang-ancang untuk lari dari tempat itu. “firaaaa….” Panggil suara itu lagi dengan seberkas cahaya menyinarinya. “ini aku ! danny !” katanya seraya berlari mendekatiku. “ya ampun,dan ! jantung aku mau copot nih !” kataku seraya mengelus-elus dadaku. “sssttt…sssstt….” “dengar sesuatu gak ?” tanyaku. “dengar apa ?” tanya danny. “udahlah,lupakan !” kataku. Kamipun memutuskan untuk kembali menyusuri jalan-jalan kecil yang membelah hutan tersebut. Kami memutuskan untuk menyusuri jalan yang sebelumnya ku jalani,karna kata danny jalan yang dia susuri cukup curam.
“ssssttt… sssstt…” “fir ! kamu dengar suara gak ?” “suara apa ?” tanyaku. “gak usah bikin takut,deh !” sambungku. “enggak tapi ada suara… ahh.. lupakan !” katanya. “dan ! dan !” kataku seraya menarik-narik bajunya. “apa sih ?” tanyanya. “ada… ada… ada ular !” teriakku. “hah ?!” “Tuhan tolong kami !” kataku seraya menitikkan air mata. “danny ! jangan sok berani,deh !” kataku seraya menarik bajunya. Danny menepis tanganku. “minjam senternya !” kata danny. “untuk apa ? disituasi kayak gini mestinya kita berdoa,dan !” kataku kembali menitikkan air mata. “minjam !” katanya seraya menarik senter dari genggaman tanganku. “dalam hitungan ketiga kamu harus lari kencang-kencang !” perintah danny. “tapi,dan ?” protesku. “udah,diam !” katanya seraya merogoh saku celananya. “satu… duaaa…” hitungnya seraya mengarahkan sinar senter tepat dimata ular tersebut. “tiii….” Akupun mulai mengambil ancang-ancang untuk berlari kencang sesuai perkataan danny. “tii…” ulangnya lagi seraya menabur sesuatu dari sakunya mengelilingi sang ular. “tiiigaaaa…” teriaknya.
“hosh..hosh…” dengan nafas tersenggal-senggal aku tetap berusaha lari sekencang mungkin sembari melihat ke belakang,menyaksikan keadaan danny. “dimana,danny ?” tanyaku seraya menghentikan langkahku. “dannyyyyy…” teriakku memecahkan keheningan hutan tersebut. “danny ! dannyyy…” teriakku lagi. “danny dimana ?” tanyaku dalam hati. “kalau aku kembali,nanti aku bisa ketemu ular lagi. Tapi kalau gak kembali nanti… aahh.. ribet banget,sih !” kataku seraya mengaruk-garuk kepalaku yang tidak gatal. “dannyyy…” teriakku seraya berlari kecil menuju tempat aku dan danny berada sebelumnya. Dengan perasaan waswas aku berlari tanpa menggenggam sebuah senter atau penerangan lainnya ditanganku. Bulan tidak tampak malam itu,kabut yang gelap menutupinya. Bintang juga tidak memancarkan sinarnya secerah biasanya. “dannyyy…” ucapku setelah menyaksikan danny tersungkur ditanah. “danny….” Ucapku lagi. Pikiranku kacau aku takut terjadi sesuatu dengan teman baruku itu,apalagi dia sampai tergigit ular. “oh no ! danny,please !” kataku seraya memukul-mukul pipinya. “sakit,mas !” “danny ?” ujarku seraya mengernyitkan dahiku. “iihh.. bikin panik aja !” kataku setelah menyadari danny,sobatku itu hanya berbaring ditanah dan tidak ada sesuatu yang terjadi dengannya. “capek nih ! udah deh kita istirahat dulu !” usul danny. “istirahat dihutan begini ?” tanyaku. “ya iyalah !” sahutnya. “nananana…na..nanana..” mengalun sebuah lagu lembut dari telpon genggamku. “haloo…” “fira ! fira ! kamu dimana ?” tanya suara diseberang sana. “kami masih dihutan ! kalian dimana ? halo ? halo…” “kenapa ?” tanya danny. “hape-ku habis baterai..” kataku pasrah. “kenapa dari tadi kamu gak bilang,kalau kamu bawa hape ?” tanyanya. “oh iya ya ! aku aja gak ingat !” kataku seraya menepuk dahiku. “aauuu…” kataku merintih. “kepalamu berdarah !” kata danny. “tadi kepalaku terantuk pohon !” ujarku seraya menutupi luka yang kembali mengeluarkan darah. “ni tutupin pakai ini !” katanya seraya menyodorkan selembar tissue.
“saku kamu ada apa aja,sih ?” tanyaku. “maksudnya ?” tanyanya. “tadi kamu ngeluarin minyak angin,terus bubuk-bubuk gitu terus tissue. Sekarang pop mie bisa gak ?” tanyaku. “kamu pikir sakuku saku doraemon ? tadi itu aku ngeluarin garam bukan bubuk !” terangnya. “ooh.. untuk apa garam ? kamu mau masak ularnya ?” tanyaku meledek. “anak pramuka kayak gini !” katanya seraya menatapku remeh. “kalau aku tahu,gak bakal aku tanya !” ungkapku. “menurut artikel yang pernah aku baca,garam itu dapat membantu kita untuk menghindar dari binatang buas khususnya ular,tapi aku juga gak tahu persis sih. Tadikan aku juga ada pakai senter,sinar senter yang diarahkan tepat dimatanya dapat membuat ular buta walaupun hanya sesaat !” terangnya. “oh.. lanjut jalan yok ! udah jam 11 malam nih !” kataku seraya melirik jam tangan berwarna kuning milikku. “oke ! tarik aku,dong !” katanya seraya mengulurkan tangannya. Akupun menarik tangannya. Aku berjalan agak didepan,kali ini ada sesuatu yang lain dengan cara berjalan danny. “kenapa kakimu ?” tanyaku. “terkilir..” jawabnya singkat. “oh ! mau aku bopong ?” tanyaku menawarkan. “enggak,terimakasih..” tolaknya. Aku berjalan didepan danny yang berjalan terpincang-pincang.
“istirahat dulu,deh !” usul danny. “oke !” sahutku lalu duduk didekatnya. “gelap banget yah ! mana senter udah mati lagi !” kataku mencari bahan pembicaraan. “iya ! eh lihat deh ! ada kunang-kunang..” katanya seraya menunjuk kearah segerombolan hewan yang memancarkan sinarnya tersebut. “oh itu kunang-kunang ?” tanyaku seraya berdiri dan mendekati sang kunang-kunang. “hati-hati !” pesan danny. “aaahh… apa ini !” kataku. Sebuah tali mengikat kakiku,entah apa sebabnya. “eh ! kamu ini buat masalah aja kerjanya !” kata danny seraya berdiri dan merogoh saku celanannya. “aaahhh…” “makanya hati-hati !” ledekku melihat kedua kaki danny juga terikat. “ini pasti kerjaan pemburu-pemburu itu !” kata danny seraya memotong tali yang mengikat kakinya tersebut. “kaki aku dong !” pintaku. “sabar ! jangan gerak-geraklah ! kayak mana mau dipotong ? salah potong baru tahu !” kata danny. “cepatlah !” protesku. “aahh…” rintih danny. “kenapa ?” tanyaku. “cutter-nya patah !” kata danny seraya menunjukkan potongan cutter yang patah tersebut. “apa sih ! kenapa patahnya waktu giliran aku,sih ?” protesku seraya mendecak. “manalah aku tahu !” kata danny acuh. “tunggu disini ya ! aku mau cari benda tajam dulu !” katanya seraya beranjak pergi dari hadapanku. “jangan lama-lama !” kataku.
Jam tanganku telah menunjukkan pukul 00.30 kurang lebih sudah 15 menit danny pergi dan belum kembali. Hal ini sontak saja membuatku panik,bagaimana tidak ? aku takut kejadian seperti rio dan kawan-kawan pergi dan tidak kembali itu kembali terjadi padaku. “positif thinking,fira !” ujarku. “kretek.. kretek…” suara dahan diinjak itu kembali muncul. Entah itu hanya perasaanku atau.. “kretek…” “Tuhan,lindungi hambamu ini !” pintaku. Seberkas cahaya muncul dari balik gelapnya pohon-pohonnan yang menutupi hutan tersebut. “fiiiraaaa disiniii…” teriakku. Segerombolan orang tersebut berjalan kearahku. “sedang apa kamu dihutan ?” tanya salah satu anggota gerombolan itu. “saya tersesat,pak !” jawabku. Kemudian orang-orang yang terdiri dari bapak-bapak tersebut membuka ikatan tali yang membelit kakiku dan membawaku pergi dari hutan tersebut,namun anehnya tak satupun dari mereka,aku kenali.
“dimana ini ?” tanyaku melihat orang-orang tadi membawaku kesebuah rumah tua ditengah hutan. “tenang ! teman-teman kamu juga ada didalam..” kata bapak berjaket merah. Akupun memasuki ruangan yang ditunjuk oleh bapak tadi. “duuup…” “eh apa-apaan ini ?” tanyaku menyaksikan pintu ruangan tempatku berada dikunci. “udah,diam kamu !” kata bapak tersebut. Aku menatapi sekeliling ruangan,ruangan yang kotor tapi terang. Tinggallah aku sendiri diruangan tersebut. “Tuhan,ada apa lagi ini ?” tanyaku dengan linangan air mata. Ku lirik jam tanganku,kini menunjukkan pukul 04.30 pagi. Mataku mulai terpejam.
“firaa.. firaaa…” Suara tersebut membangunkanku dari mimpi indahku. “danny ?” tanyaku. Suara itu mengingatkanku akan sosok sobat lelakiku. “fira-fira !” suara itu kembali diperdengarkan dan kali ini aku tahu suara itu berasal dari jendela yang terbuka disisi kanan ruangan tersebut. “danny ? tolong aku,dan ! aku diculik !” ungkapku. “iya,masalah itu aku juga tahu..” ungkap danny seraya melirik ke kanan dan ke kiri. “rombongan yang lain udah nyusul mau ke sini ! kamu tenang aja,didalam !” pesan danny. “oke…” “nih ada makanan ! lumayan buat ganjal perut ..” katanya sembari memberiku sebungkus roti kelapa. “thank you !” ujarku. “aku pergi dulu ya ! takut ketahuan !” katanya. Akupun menjauh dari jendela yang diteralis tersebut. Ku mulai melahap roti isi kelapa yang diberikan oleh danny tersebut.
“bruukk…” sebuah tendangan berhasil membuka pintu ruangan dimana aku berada tersebut. “sini,cepat ikut kami !” perintah bapak-bapak yang semalam sempat menyelamatkanku. “enggak !” kataku seraya menepis tanganku. “dasar anak nakal !” kata bapak tersebut seraya menampar pipi kiriku. Aku tak dapat mengucapkan sepatah kata pun. “cepat sini !” Aku yang masih syok mendapat tamparan kasar dari sang bapak tersebut,akhirnya hanya bisa mengikuti perintahnya. Akupun berjalan didepan bapak tersebut dengan sebilah pisau dibagian punggungku. “firaaa… !!” teriak teman-temanku yang berteriak histeris melihat diriku dengan bilahan pisau dibagian punggung. “firaaa…” jerit katri dengan histeris disusul dita,hime,nadia dan anak-anak yang lain. “serahkan uangnya !” kata bapak yang berjaket biru dongker. “ha ?! uang ?” tanyaku. “diam kamu !” kata seorang bapak dibelakangku seraya memindahkan pisau yang tadinya dibelakangku kearah leher. “firaaa…” teriak hime seraya maju selangkah dari tempat sebelumnya. “heh ! lancang kamu ya !” kata bapak yang lain. “lepaskan fira,pak !” pinta dita seraya memegang tangan seorang laki-laki yang berada didekatnya. “plaaaak…” sebuah tamparan mendarat dipipi dita. “heh ! bapak tahu etika,tidak ? ini anak kecil !” kata bu lila yang sedari tadi hanya diam. “saya mau uangnya ! mana ?” tanya lelaki yang menampar dita tadi. “ini,pak !” “ayaaah ?” kataku heran melihat sosok lelaki yang sangat kukenal. “Ini uangnya… jumlahnya 150 juta ! dua kali lipat dari yang kalian minta !” ujar papa seraya memberikan tas ransel berwarna hitam. “sini !” rampas pria tersebut. “lepaskan,dia !”
“angkat tangan !” Beberapa kawanan polisi memasuki ruangan yang penuh dengan ketegangan tersebut. Dengan cepat aku mengambil kesempatan untuk pergi dari cengkraman para penculik tersebut. “firaaa…” sambut teman-temanku seraya memberikan pelukan hangat. “thank’s semua ! karna kalian aku bisa selamat ! thank you !” ucapku dengan tangisan. “ingat gak kata-kata aku ?” tanya dita. “kata-kata apa ?” tanyaku. “suatu saat kamu pasti membutuhkan pertolongan dia.. si jangkung itu loh !” kata katri seraya menunjuk ke arah si jangkung nan baik hati,danny. “iya-iya ! aku akui kalau sebelumnya aku salah berpendapat tentang dia. Yak an,danny ?” ucapku seraya menekan nada pada kata danny. Danny melempar senyum mautnya. “cieee…” sorak anak lain. “masih kecil gak ada cinta-cintaan. Aku sama danny itu hanya temanan,friend !”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nama :
E-Mail :
Komentar :